Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Sunday, February 13, 2011

 http://www.mudahonline.com/mesir-dan-tunisia-analisis-dari-iran.html
Media-media Barat mulai berkembangkan berita bahwa tensi di Mesir sudah menurun. New York Times, media terdepan penyambung lidah kaum Zionis, menurunkan headline, “Protests Linger as Normal Life in Cairo Begins to Resume” (Protes tetap berjalan seiring dengan mulai kembalinya kehidupan normal di Kaherah). Perhatikan bahwa New York Times menggunakan kata ‘linger’ yang juga punya makna ‘hidup segan mati tak mau’ dan memberitakan, “Kerumunan yang menuntut turunnya Mubarak semakin mengecil.” NYT bahkan mengutip pernyataan Omar Suleiman (yang didukung AS untuk memimpin proses transisi) yang sejatinya merendahkan bangsa Mesir sendiri, “[Mesir belum siap berdemokrasi dan tidak akan siap sampai] rakyat di sini memiliki budaya berdemokrasi.”

Headline NYT itu didampingi dengan artikel opini dengan judul provokatif, How Democracy Became Halal (Ketika Demokrasi Menjadi Halal). Isinya, seperti tergambar dari tajuknya, menyatakan bahwa sumbangan terbesar peradaban Barat terhadap Islam adalah demokrasi. Sambil bersuara miring terhadap proses demokrasi di Iran, penulis artikel itu memosisikan AS sebagai pihak yang berjasa meningkatkan kesadaran demokrasi di tengah bangsa-bangsa Timur Tengah. Islam digambarkan sebagai agama diktator yang harus belajar berdemokrasi.
Penghinaan. Inilah kata kunci dari gelombang kebangkitan rakyat Timur Tengah, menurut Ayatullah Khamenei, pemimpin tertinggi Iran. Media Barat selama ini berusaha menampilkan analisis-analisis yang membebankan kesalahan kepada kediktatoran Mubarak. Sebagian analis yang agak ‘merdeka’ dapat menemukan bahwa justru Barat-lah sumber kesengsaraan Mesir dan Mubarak hanya boneka [baca dua tulisan saya sebelumnya tentang Tunisia dan Mesir]. Tetapi, dari Iran, muncul analisis yang lebih mendasar. Betul, ekonomi menjadi salah satu pemicu kemarahan rakyat. Tapi pemicu utamanya adalah keterhinaan yang ditimpakan oleh imperialis Barat melalui boneka-bonekanya yang sudah tak dapat lagi ditanggung oleh manusia yang secara fitrah memiliki harga diri dan kehormatan.
Saya tak hendak menganalisis ulang apa isi analisis Ayatullah Khamenei. Saya pikir, sebaiknya kita membaca sendiri apa yang beliau ungkapkan tentang Tunisia dan Mesir (selama ini yang beredar di media Indonesia adalah kutipan-kutipan berantai yang sangat mungkin jauh berbeda dengan apa yang sebenarnya beliau sampaikan). Berikut ini terjemahan lengkap analisis Ayatullah Khamenei tentang Tunisia dan Mesir.rahbar01 Mesir dan Tunisia: Analisis dari Iran
*
Apa yang terjadi di Tunisia dan Mesir adalah sebuah ‘gempa besar’. Seandainya rakyat Mesir, dengan bantuan Tuhan, mampu berhasil maka akan terjadi sebuah situasi dimana AS mengalami kekalahan yang sangat besar dalam politik Timur Tengahnya. Penguasa Mesir tentu saja sangat khawatir menghadapi situasi ini, tetapi yang paling ketakutan sebenarnya adalah para pejabat Israel. Para pejabat Israel tahu persis bahwa seandainya Mesir menarik diri dari persekutuannya dengan Israel dan Mesir menempatkan dirinya dalam posisi yang seharusnya, akan terjadi tragedi politik yang sangat besar bagi Zionis. Inilah yang sebenarnya dulu pernah diprediksikan oleh Imam Khomeini dan yakinlah bahwa prediksi itu akhirnya akan terwujud. Dari sisi inilah maka yang terjadi di Mesir adalah peristiwa yang sangat penting.
Analisis-analisis yang muncul di kalangan internasional berusaha keras agar faktor utama dari peristiwa yang terjadi di Mesir ini diabaikan. Mereka menyebut faktor-faktor ekonomi ataupun non ekonomi, tetapi itu bukanlah faktor utama. Faktor utama dari apa yang terjadi di Tunisia dan Mesir adalah perasaan keterhinaan. Segala peraturan yang diambil oleh pemerintah kedua negara itu menyebabkan munculnya perasaan terhina itu. Para penguasa Mesir telah membuat rakyatnya merasa terhina.
Sebelumnya, saya akan menyampaikan dulu apa yang terjadi di Tunisia. Presiden Tunisia yang sudah lari itu memiliki ikatan yang sangat kuat dengan AS. Bahkan kami memiliki beberapa laporan yang menyebutkan bahwa Ben Ali adalah bagian dari CIA. Perhatikanlah betapa ini adalah suatu hal yang sangat berat bagi sebuah bangsa: ketika pemimpin bangsa itu, presidennya, yang secara lahiriah menunjukkan diri sebagai seorang yang sangat sombong kepada rakyatnya sendiri, tapi pada saat yang sama adalah seorang budak resmi dari sebuah lembaga negara lain, yaitu AS. Ben Ali bertahun-tahun berkuasa atas rakyat Tunisia, menerapkan berbagai peraturan yang bertentangan dengan kepentingan nasional, juga bertentangan dengan nilai-nilai agama di negara itu. Tunisia adalah sebuah negara muslim dan memiliki sejarah panjang peradaban Islam, serta mewarisi kebudayaan agung Islam, tapi rakyatnya justru tidak dapat pergi ke masjid dengan bebas pada era Ben Ali. Agar dapat pergi ke masjid, mereka harus memiliki kad khusus yang hanya dirilis oleh pemerintah. Kad itu pun tidak diberikan kepada semua rakyat. Ini artinya pembatasan yang sangat ketat bagi rakyat untuk pergi ke masjid. Jangankan melaksanakan sholat berjamaah, untuk sekedar sholat sendirian pun di masjid dilakukan pembatasan. Pembatasan ini dilakukan secara terang-terangan. Jilbab secara resmi dinyatakan terlarang. Dari sisi ini, sangatlah jelas terlihat bahwa kebangkitan rakyat Tunisia didasari pada semangat kebangkitan Islam. Hal ini juga terlihat dari fenomena ketika para mahasiswi Tunisia langsung mengenakan jilbab ketika pergi ke kampus segera setelah Ben Ali yang pengkhianat itu lari ke luar negeri dan kacaunya kendali pemerintah. Hal ini menunjukkan motivasi keislaman yang sangat kuat. Hal-hal semacam inilah yang berusaha keras disembunyikan oleh para analis Barat.
Motivasi yang lainnya dikaitkan dengan kebangkitan rakyat Tunisia adalah keinginan untuk berlepas diri dari AS dan motivasi ini sungguh sangat penting. AS tidak ingin muncul suara-suara yang menyatakan bahwa alasan kebangkitan rakyat Tunisia -dan berikutnya menjalar ke Mesir-dikaitkan dengan permasalahan ketergantungan kepada AS. Ini adalah hakikat ynag sebenarnya.
Di Tunisia saat ini sudah terjadi perubahan tetapi masih di lapisan permukaan. Ben Ali sudah pergi, akan tetapi kaki tangannya masih dapat bercokol di pemerintahan. Mudah-mudahan Allah memberi pertolongan kepada rakyat Tunisia agar mereka memahami situasi yang sebenarnya dan jangan sampai musuh melakukan penipuan kepada rakyat Tunisia.
Adapun di Mesir, Mesir adalah sebuah negara yang sangat penting. Mesir adalah negara muslim pertama yang berkenalan dengan budaya Barat. Mesir pulalah yang menjadi negara pertama yang memahami budaya Barat dan memahami berbagai macam cela-nya untuk kemudian mereka melakukan kritik terhadap keburukan-keburukan itu. Jamaluddin Al Afghani, seorang ulama Islami pemberani dan pejuang besar, menemukan bahwa tempat yang tepat untuk melawan Barat dan Eropa adalah di Mesir. Kemudian muridnya, Syekh Muhammad Abduh dan para pejuang Islam lainnya mengikuti jejak Al Afghani. Mesir pulalah kawasan yang melahirkan tokoh-tokoh besar politik dan budaya Islam. Mereka semua adalah pejuang kebebasan. Karena itulah maka sangat layak jika Mesir dulu sempat menjadi pemimpin dunia Arab secara pemikiran maupun politik. Dalam jangka waktu yang cukup lama, negara-negara Arab sangat mengakui kepemimpinan Mesir.
Mesir bersama Suriah adalah negara Arab yang pertama kali berani tampil memasuki medan pertempuran untuk membebaskan rakyat Palestina. Dengan gagah berani Mesir mengirimkan tentara dan rakyatnya, didukung segala fasilitas negara, demi peperangan itu. Walaupun pada akhirnya peperangan itu (tahun 1967 dan 1973) gagal dimenangkan, [namun] inilah fakta sejarah Mesir. Mesir kemudian menjadi tempat bernaungnya pejuang Palestina. Bahkan kaum revolusioner dari negara-negara lainpun ketika membutuhkan perlindungan, mereka akan datang ke Mesir. Dapat dibayangkan, negara yang memiliki sejarah yang membanggakan seperti ini, selama 30 tahun terakhir justru jatuh di bawah kekuasaan seseorang yang malah menjadi musuh dari kebebasan itu sendiri. Dia bukannya memusuhi Zionisme tetapi malah merupakan bagian dan penjamin agenda-agenda Zionisme. Dia malah menjadi budak dari Zionisme. Sebuah negara yang dulunya menjadi pengibar panji perjuangan melawan Zionisme dan menjadi inspirator bagi gerakan perjuangan di seluruh dunia Arab selama 30 tahun terakhir ini, selama 30 tahun terakhir malah menjadi tumpuan harapan dan benteng bagi Israel dalam menjalankan berbagai politik penindasan terhadap Palestina.
Dalam peristiwa Gaza misalnya, seandainya Mubarak tidak membantu Israel, tidak mungkin Israel dapat mengepung Gaza. Orang-orang Palestina di kota Gaza hingga saat ini telah empat tahun berada dalam pengepungan.
Dalam peperangan 21 hari [Des 2009-Jan 2010], laki-laki, perempuan, anak-anak Palestina di Gaza dibunuh Israel, rumah-rumah mereka dihancurkan, dan pemerintahan Mubaraklah yang melarang sampainya bantuan kepada warga Gaza. Larangan pemberian bantuan ini bukan hanya diberlakukan kepada rakyat Mesir, melainkan juga diterapkan kepada negara-negara lain yang ingin memberikan bantuan melalui kawasan Mesir. Husni Mubaraklah yang menetapkan pelarangan itu. Situasi seperti inilah yang terjadi di Mesir.
Sangat layak jika rakyat Mesir kemudian marah. Rakyat Mesir marah melihat dukungan total pemerintah mereka kepada Israel, ketaatan luar biasa Mubarak kepada AS. Mereka merasakan keterhinaan dan kerendahan. Inilah yang sebenarnya menjadi faktor utama yang sekarang terjadi di Mesir. Mereka adalah para pejuang Islam, gerakannya pun dimulai dari sholat Jumat dan dari masjid-masjid. Selogan dan sorakan mereka kumandangkan adalah Allahu Akbar. Rakyat menggelorakan slogan-slogan keagamaan. Dan para aktivis yang menggerakkan demo di Mesir adalah para aktivis Islam. Rakyat Mesir menghendaki terhapusnya kehinaan ini dari diri mereka. Inilah sebenarnya faktor utama. Tapi tentu saja negara-negara Barat tidak membiarkan analisis semacam ini muncul dan berkembang di kalangan masyarakat internasional. Hampir semuanya menunjuk kepada permasalahan ekonomi.
Tentu saja, hal ini pun menjadi sebuah realiti. Penghambaan seseorang seperti Mubarak kepada AS terbukti tidak mampu membawa Mesir selangkah pun ke arah kemajuan. 40% dari penduduk Mesir yang berjumlah sekitar 70 juta hidup di bawah garis kemiskinan. Laporan-laporan menyebutkan bahwa ratusan ribu orang (sebenarnya saya mendengar jumlahnya 2-3 juta, tapi yang dapat dipastikan adalah ratusan ribu) di kota Kaherah sedemikian miskinnya sehingga terpaksa hidup di kompleks-kompleks Perkuburan. Banyak lagi di antara mereka yang menjadi gelandangan. Rakyat memang berhadapan dengan situasi kehidupan yang luar biasa sulit. Penghambaan pemimpin Mesir kepada AS ternyata tidak berbuah dukungan ekonomi dari pemerintah AS kepada bangsa Mesir. Hari ini pun AS tidak akan membantu Mesir. Yakinlah bawah seandainya Husni Mubarak melarikan diri dari Mesir, negara pertama yang menutup pintunya untuk Mubarak adalah AS. Inilah yang juga dilakukan AS kepada Ben Ali dan Muhammad Reza [Pahlevi].
Inilah nasib yang dialami oleh orang yang hatinya tertambat kepada AS dan menunjukkan pertemanan kepada AS. AS itu seperti setan. Dalam doa Sahifah Sajadiah, dikatakan bahwa “ketika sudah menipu manusia, maka setan akan memalingkan mukanya” dan-menurut penafsiran saya- pada saat itu sesunggunnya setan sedang menertawakan dan tidak pernah mempedulikan lagi orang yang ditipunya. Dengan perantaraan orang-orang yang lemah dan hina seperti inilah AS mencoba berusaha mengamankan kepentingan dirinya sendiri.
Tapi hari ini AS betul-betul dalam keadaan terpojok dan yang lebih merasakan situasi sulit saat ini adalah Israel. Mereka sedang berusaha keras untuk mencari jalan keluar bagi peristiwa yang terjadi di Mesir, jalan keluar yang tidak mungkn mereka dapatkan, Mereka berusaha membuat berbagai macam penipuan, seperti berpura-pura menunjukkan dukungan terhadap gerakan rakyat. [Misalnya] sekarang dikabarkan bahwa AS sudah meminta Mubarak untuk mengundurkan diri dan pergi. Keberhasilan politik AS ini tentu saja bergantung kepada rakyat Mesir sendiri.
(Ayatullah Khamenei kemudian melanjutkan khutbahnya dengan bahasa Arab, yang ditujukan kepada muslim berbahasa Arab. Isi khutbah bahasa Arab adalah ringkasan dari khutbah berbahasa Persia, namun ada tambahan kalimat yang khusus ditujukan kepada bangsa Mesir):

Saudara-saudara ini adalah pengalaman kita bersama. Saya sebagai saudara muslim Anda menyampaikan semua ini kepada Anda dengan didasarkan kepada suatu komitmen agama. Perhatikanlah bahwa terompet propaganda musuh akan kembali bersuara. Mereka akan mengatakan bahwa Iran akan melakukan intervensi, ingin mensyiahkan Mesir, ini mengekspor wilayatul faqih ke Mesir, dan berbagai macam tuduhan lainnya. Ini adalah kebohongan yang sudah berlangsung 30 tahun yang tujuannya adalah agar kaum muslimin berpecah-belah dan tidak dapat saling memberikan pertolongan satu sama lain. Slogan-slogan itu diulang-ulang pula oleh para pengikut Barat.
2.1 Protest Mesir dan Tunisia: Analisis dari Iran
Gambar Protes egypt
[mengutip ayat Quran 6:112] “Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang menipu, tetapi jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan mampu mewujudkannya. Maka tinggalkanlah mereka dengan segala kebohongan mereka.” Meskipun berbagai konspirasi dirancang sedemikian hebatnya oleh musuh, kami tidak akan pernah melepaskan kewajiban yang diletakkan oleh agama Islam di atas pundak kami.
[translated by Dina Y. & Otong Sulaeman] (IRIB)

Tuesday, March 2, 2010

Raja Petra Kamarudin

Soon after the 8 March 2008 general election, Umno held a seminar at the Holiday Villa in Subang. I invited a few non-Malay friends to join me in this seminar. Initially, they did not see any point in attending an Umno do. However, I managed to convince them to go so that they can get a good idea on what Umno is thinking. There were other seminars held in Petaling Jaya, Johor Bharu, and so on -- some which I also attended with my non-Malay friends in tow and some which I sent ‘agents’.

In the Holiday Villa seminar, amongst those who spoke were Fahmi Ibrahim, one-time political secretary to Selangor Menteri Besar Datuk Harun Idris, and Mazlan Harun, Datuk Harun’s son. Datuk Harun is of course synonymous with May 13, the tragic race riots of 1969 that erupted two days after the 11 May 1969 general election.

We all know what happened on 13 May 1969, and why it happened, so we need not deliberate on that matter. What I want to talk about is the seminar in the Holiday Villa, which I have in fact already written about before.

“The reason we lost Selangor in 1969 was because of the non-Malay votes. So we decided to take Kuala Lumpur out of Selangor and turn it into Federal Territory to reduce the non-Malay voters in the state. Then we created a new Malay city called Shah Alam so that we can flood Selangor will more Malays and dilute the remaining non-Malay voters in Selangor.”

That was what Fahmi explained -- the reason why Selangor was split into two with the creation of the Federal Territory and the reason why Shah Alam was created as the new State Capital cum Malay city.

“It worked for awhile as long as the Malays vote Umno and the non-Malays vote opposition. But when the Malays also vote opposition then this strategy no longer works. So we need to think of a new strategy.”

The ‘new’ strategy Umno is talking about is not actually new but is an ongoing strategy. This strategy is called gerrymandering and it was invented by the Americans.

This is what Wikipedia has to say about the matter:

Gerrymandering is a form of boundary delimitation (redistricting) in which electoral district or constituency boundaries are deliberately modified for electoral purposes, thereby producing a contorted or unusual shape. The resulting district is known as a gerrymander; however, that noun can also refer to the process.

Gerrymandering may be used to achieve desired electoral results for a particular party, or may be used to help or hinder a particular group of constituents, such as a political, racial, linguistic, religious, or class group.

When used to allege that a given party is gaining a disproportionate power, the term gerrymandering has negative connotations. However, a gerrymander may also be used for purposes that some perceive as positive, notably in US federal voting district boundaries which produce a proportion of constituencies with an African-American or other minority in the majority (these are thus called "minority-majority districts").

You can read more about it here: http://en.wikipedia.org/wiki/Gerrymandering.

Malaysia has turned gerrymandering into an art. For example, when they wanted to topple Ustaz Abdul Hadi Awang, the PAS President, they carved up his Marang constituency in such a manner that areas from across the state, like along the Kuala Berang road, were added to Marang. Hadi, in spite of his stature, lost the election.

The same was done for Lembah Pantai, which was another opposition stronghold. They added Sungai Pencala near Taman Tun Dr Ismail, Kampong Pasir along the Old Kelang Road, and Segambut Dalam near Jalan Ipoh, to Bangsar, and the opposition got wiped out -- until recently when Nurul Izzah won the seat.

The above are just two examples of many. It is no coincidence that ‘Malay’ seats like Putrajaya (97%-98% Malay voters) have as low of 5,000 voters while ‘Chinese’ seats like Selayang have more than 120,000 voters.

In a gerrymandering exercise you lump all the opposition voters into one huge constituency and you spread out the government supporters into many seats. So, the opposition can garner 100,000 votes but it will be only one seat while the 100,000 votes that the ruling party wins will be in three or four seats.

And that was why even though the ruling party garnered only 45% of the popular votes in 1969 it still managed to form the federal government, although without a two-thirds majority in parliament. The 55% of the popular votes that the opposition won was not enough for it to form the federal government. The opposition would have needed to win 60% of the popular votes to form the federal government, which was impossible for the opposition to achieve.

Of course, before 2008 it was easier. You just needed to isolate the non-Malay voters into one large seat and spread out the Malay voters into many seats. But in 2008 this changed. In 2008 the Malays too voted for the non-Malay candidates whereas in the past the opposition Malays meant only PAS -- which was in the rural Malay heartland and not in the cities.

The game has changed. So the rules of the game also need to change. And gerrymandering is not that simple any more. You can no longer redraw the constituency boundaries according to race. Malays too will now vote for Chinese and Indian candidates from non-Malay parties such as DAP and PKR.

So it is back to the drawing board for the election commission (SPR). Next year, they need to sit down and come out with a new formula. Barisan Nasional needs to ensure that it can still form the federal government even if it wins just 40% of the popular votes. And it also needs to ensure it can regain its two-thirds majority in Parliament with a mere 50% of the votes. That is the new game plan.

But to do this they need to first get back their two-thirds majority in parliament. And they need to get back this two-thirds this year so that next year the new constituency boundaries can be settled. Then, when they dissolve parliament and call for new general elections, say mid-2011 or early 2012, the new boundaries would apply.

Some say it is not crucial for Barisan Nasional to have a two-thirds majority in parliament to be able to run this country. If it is only about running this country then that may be true. But it is not true if they need to embark on a new gerrymandering exercise. To do this they need two-thirds of parliament.

And this is why Umno is very keen to buy at least ten or so opposition Members of Parliament. This will give them back their two-thirds majority in parliament.

This was that The Straits Times of Singapore said:

The BN needs 148 seats for a two-thirds majority. With support of the three independents, it will get there with just another eight defectors. A two-thirds majority is not just a psychological booster, but is also necessary for smooth passage of the next redrawing of electoral constituencies that will begin next year.

When Anwar Ibrahim said that Prime Minister Najib Tun Razak and his wife Rosmah Mansor are behind the latest wave of crossovers he was actually not wrong. The man behind this ‘shopping spree’ to buy the opposition Members of Parliament is Hamdan, Najib’s cousin, who was given the Kudat IPP as the ‘cash cow’ to finance the shopping spree.

Of course, the Kudat IPP comes with a ‘commission’ of RM50 million. And this RM50 million is to be used to pay off the opposition Members of Parliament as an inducement to cross over. Hamdan works very closely with the Special Branch and Military Intelligence. His contact in Bukit Aman is Akril Sani while in the Military Intelligence it is Datuk Salleh.

Hamdan’s mobile phone number is +6012-279-5945 and he made the mistake of contacting his key men in the Special Branch and Military Intelligence using this mobile phone so of course we managed to track what he was doing all this while.

The other person in this ring is Zahari Ismail, the man who arranged the meeting between Najib and Hadi Awang. Zahari is one of the directors of Malaysia’s F1 racing team so he has access to a large reserve of funds allocated to ‘research and development’, which he can also use to finance the shopping spree.

So it is actually the taxpayers’ money that is financing all these crossovers.

Another person involved with the ring is the husband of Mumtaz Jaafar. Mumtaz works for Rosmah and also has links with Saiful, the young man who accused Anwar of sodomising him.

If you can remember, Hee of Perak was paid RM25 million. Her price was high because they needed her to topple the Pakatan Rakyat Perak government. So RM25 million can be considered a fair price. Anyhow, Vincent Tan picked up the tab from his ‘special draw’ so it was quite affordable since the Malaysian gamblers were paying for it.

Tan from Penang was paid only RM2 million. It is not much but he has gambling debts up to his eyeballs and the loan sharks or along are camped outside his house so he has no choice but to accept this figure. The along can be very brutal if you don’t pay what they demand so when you are in that situation you are in no position to negotiate for more.

Wee Choo Keong’s problem is more complicating. It involves two mistresses and one who has just given birth and Umno has threatened to expose this scandal. He also has this RM35 million legal problem with Ambank and if this can be settled ‘out of court’ then Wee will certainly become another ‘independent’ Member of Parliament.

Nike’s rallying call is ‘Just Do It’. Umno’s rallying call is ‘Just Duit’. All it takes is money (duit) and Barisan Nasional will get back its two-thirds majority in Parliament whereby the next gerrymandering exercise can be launched. Then it does not matter whether the opposition will win 60% of the popular votes come the next election. Barisan Nasional will still be in power and with a two-thirds majority on top of that.

Now you know what is going on? Yes, that is the real reason these people are crossing over, not all those crap excuses they are giving such as lost confidence, dictator, and whatnot. It is JUST DUIT.

Oh, and before I sign off, keep a close watch on Naza, the Car Czar and AP King of Malaysia. Something interesting is about to happen. And remember, you read it here first.

Tuesday, July 14, 2009

Usefull Links

Sila refresh untuk keputusan terkini

KEPUTUSAN TIDAK RASMI
UNDI PAS
5347
UNDI BN
5283
MAJORITI 64
JUMLAH UNDI ROSAK 90
JUMLAH KELUAR MENGUNDI 10 746 (87.42%)
JUMLAH SALURAN MENANG 14 DARIPADA 27
JUMLAH UPU MENANG 4 DARIPADA 9
MASA 8.29 PM (rasmi)

Sunday, July 12, 2009

Top Page now!!!

YANG INI MESTI NAK KLIK PUNYA-INFO SEMASA

LAMAN WEB @ BLOG YANG HANGAT KETIKA INI
PILIHAN RAYA KECIL N41 MANIK URAI 12 Julai!!!
TOPIK HANGAT DIPERBAHASKAN KINI
Soalan BOCOR-Debat TGNA Vs DSMN.... Sedang HANGAT!!!
Klik untuk ke TKO Hangat!!!
JOM KE-DetikDaily
TERKINI....Hangat!!!
Galeri foto penamaan calon pilihanraya kecil DUN Manek Urai

Usefull Links

Peluang Keemasan




-Tak Perlu Beli Stok


-Tak Perlu Belian Maintain


-Komisyen Tinggi


-Masa kerja Fleksible


-Pelbagai Bonus/ Insentif